Pengkhotbah

Perikop
Markus 11:1-11

Ringkasan Khotbah

Salah satu teks yang ditulis dengan lengkap dalam seluruh Injil adalah kisah ini. Selain ini adalah kisah Yesus memberi makan 5.000 orang (Markus 6:30-44) serta kisah kematian dan kebangkitan Yesus. Istilah “Hosana” (Ibrani: hosi-ah-na= Oh, selamatkan sekarang), dapat juga diartikan “Selamatkan, aku memohon.” Karena itu, di sini mereka berseru “Diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud” (ay. 10). Awalnya merupakan seruan para tawanan atau pemberontak yang meminta belas kasihan; dan dengan demikian telah menjadi seruan umum, ekspresi kegembiraan dan kebebasan. Seruan ini diambil dari Mazmur 118:25-26 “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN.” Allah yang telah menanamkan dalam hati orang-orang ini untuk berseru Hosana, mereka tidak dihasut oleh siapapun. Biarlah Dia diberkati dalam nama Tuhan, dan biarlah semua bangsa dan zaman menyebut Dia terberkati, memuji serta menghormati Dia. Kristus menganggap diri-Nya dihormati karena iman dan pujian orang banyak dan Allahlah yang membuat manusia melakukan penghormatan ini di luar niat mereka sendiri.

  1. Sembahlah Dia yang Berdaulat atas segala Sesuatu (ayat 1-6). Tuhan Yesus mengendarai seekor keledai muda, sebagai lambang kelemahan. Markus mencatat tentang kemahatahuan dan kedaulatan Yesus atas segala yang terjadi di depan. Ayat 2 – Ia menyuruh murid-Nya untuk mengambil seekor keledai muda yang tertambat. Yesus naik keledai bukan karena Ia sudah kelelahan dari Yerikho menuju Yerusalem melainkan karena saat kematian-Nya sudah dekat. Perintah untuk mengambil seekor keledai muda menunjukkan Ke-Ilahian Yesus yang mengetahui hal-hal yang tidak terlihat oleh manusia dan untuk membujuk hati manusia agar patuh sebab semua adalah milik-Nya. Marilah kita juga belajar melalui teladan mereka untuk terus maju melewati setiap kesulitan, sehingga kita dapat memberikan kepada Tuhan ketaatan yang Ia tuntut dari kita; karena Dia akan menghilangkan rintangan, dan membukakan jalan, dan tidak akan membiarkan usaha kita sia-sia.
  2. Sembahlah Dia yang Rendah Hati (ayat 7-8). Peristiwa ini adalah penggenapan dari Zakharia 9:9. Yesus memasuki Yerusalem dengan penuh kerendahan. Ia datang dengan mengendarai keledai bahkan ketika kekurangan pelana dan perlengkapan, memaksa para murid untuk mengenakan pakaian mereka di atasnya, yang merupakan tanda kemiskinan yang rendah dan tercela. Meskipun Yesus datang dengan keledai namun kedatangan Kristus memberikan dasar sukacita kepada orang percaya suatu dasar sukacita yang penuh dan utuh. Dalam karya Kristus, kita melihat kesatuan yang luar biasa antara kelemahan dan kekuasaan, kekayaan dan kemiskinan, ke-Tuhanan dan keberanian. Siapapun yang membaca Injil akan mengamati bahwa Dia yang dapat memberi makan ribuan orang, Ia sendiri bisa merasa lapar dan Dia yang mengusir setan dengan sepatah kata saja, Dia sendiri dicobai. Di dalam Pribadi Kristus kita dapat melihat kemuliaan melalui suatu kerendahan.
  3. Sembahlah Dia yang Bertindak Adil (ayat 11). Yesus naik anak keledai memasuki Yerusalem. Keledai menyerahkan hidupnya untuk Yesus yang membawa kebenaran dan keselamatan. Dia menyatakan secara terbuka tentang Dia adalah Raja. Setibanya di Yerusalem, Ia masuk ke Bait Allah (11). Kita pernah membaca peristiwa ini ketika Yesus berumur 12 tahun dan bertukar pikiran dengan para alim ulama (Lukas 2:42-47).

Di dalam Bait Allah ini, Yesus menyerukan kebenaran dan mengutuk segala praktik kotor para pemimpin agama Yahudi (11:17) – “Bukankah Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Api pemurnian telah tiba untuk menyucikan apa yang busuk, untuk membersihkan segala sesuatu yang kotor. Dia memulai pekerjaan-Nya di bait Suci dan menyelesaikan di atas kayu salib. Dia bertindak adil ketika Ia menghakimi. Ia telah datang dan akan datang kembali untuk menghakimi segala sesuatu.