Pengkhotbah

Perikop
Efesus 4:25-32

Ringkasan Khotbah

Awal Desember lalu, kita sudah merenungkan bagian 1 (ayat 17-24). Jika seseorang telah diubah dalam roh dan pikiran maka dia akan disempurnakan ke arah karakter seperti Kristus. Berdasarkan pengenalan kepada Kristus di ayat 23 “supaya kamu diperbaharui di dalam roh dan pikiranmu” maka di sini Paulus menulis nasihat praktis kepada jemaat Efesus.

1. Bijak Dalam Perkataan (25, 29).

Paulus menegaskan kepada jemaat yang sudah bertobat untuk membuang dusta. Dalam Yohanes 8:44 bahwa sumber dari dusta adalah iblis. Mengapa Paulus menasihati tentang “membuang dusta” ini? Karena akar masalah bukan di perkataan tetapi di dalam hati sebagai sumber dari perkataan. Segala sesuatu yang keluar dari bibir adalah produk dari dalam hati (Markus 7:22-23). Berbicara adalah proses yang melibatkan emosi, kehendak dan isi hati sehingga sepatah kata yang terucap ketika berbicara banyak tentang hati anda.

Di dalam Pengkhotbah 5:5-6 “Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu? Karena sebagaimana mimpi banyak, demikian juga perkataan sia-sia banyak. Tetapi takutlah akan Allah.”

Sebagai sebagai sesama anggota, kita dinasihati untuk berkata benar. Praktek nasihat disini adalah:

  • Jujur dalam percakapan (Matius 5:37). Yesus berkata: “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Kristus menegaskan prinsip komunikasi dari hati yang takut akan Tuhan.
  • Tetap mempertahankan kebenaran (Amsal 6:19).
  • Bertanggung jawab dengan janji sendiri (Pengkhotbah 5:1). Jika Sudah menyampaikan janji/nazar di hadapan Tuhan, tetaplah berjuang untuk menepatinya.

2. Bijak Dalam Kemarahan (26-27)

Paulus mengajarkan tentang cara merawat kemarahan yang sehat agar kita dapat menyatakannya dengan bijak tanpa jatuh dalam dosa. Ada 2 nasihat Paulus di sini:

  • Janganlah kamu berbuat dosa. Ada kemarahan yang baik karena semangat dan cinta sejati kepada Allah. Kemarahan jenis ini adalah kemarahan karena melawan dosa dan bukan kemarahan kepada pribadi orang yang dimarahi. Contoh: Yesus marah di bait Allah (Yohanes 2), Pinehas Anak Eleazer yang membunuh orang Israel yang telah kompromi dengan perempuan Moab (BIlangan 25:10-11).
  • Janganlah beri kesempatan kepada Iblis (ayat 27). Istilah ‘kesempatan’ diartikan Jangan beri tempat kepada Iblis yang hendak menguasai pada waktu amarah. Mintalah pertolongan Roh Kudus untuk menolong kita pada saat kita marah.

3. Bijak Dalam Bekerja (28)

Latar belakang orang di Efesus adalah memiliki berbagai bentuk kejahatan. Tetapi setelah menjadi percaya mereka dinasihati untuk menunjukkan praktek hidup yang benar di hadapan Tuhan. Bekerja adalah juga untuk melayani Tuhan. Oleh sebab itu, bekerjalah dengan sepenuh hati. Paulus berkata di dalam Kolose 3:23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”