Ringkasan Khotbah

Beberapa waktu yang lalu, kita sudah mempelajari 1 Timotius 1:1-17, Rasul Paulus menasehati kepada anak didiknya yaitu Timotius tentang hati nurani yang murni dihadapan Tuhan. Hati nurani berperan untuk mengingatkan kita agar kita tidak menjadi orang Kristen yang tidak murni dan tidak tulus (munafik). Tuhan adalah satu-satunya pribadi yang dapat memahami hati nurani kita yang terdalam. Roh Kudus bekerja untuk mengingatkan kita. Karena itu, hati nurani sangat penting untuk didengarkan.

Hati nurani adalah gabungan dari kesadaran moral dengan kerohanian sebagai ciptaan yang segambar dengan Allah. Di dalam konteks ini, hanya hati nurani orang percaya yang akan dipimpin oleh Roh Kudus. Sehingga, hati nurani dapat menjadi alat perang untuk melawan dosa dan kejahatan karena mampu untuk menilai sesuatu yang baik dan yang jahat. Syaratnya adalah hati nurani kita telah diterangi oleh Roh Kudus. Iman dan hati nurani harus dimiliki oleh orang percaya. Keduanya harus bersama-sama, tetapi iman harus berjalan lebih dahulu. Jadi iman harus menjadi pendahulu dan pemimpin dari hati nurani sebab hati nurani tidak akan berfungsi apabila ia tidak pernah memberikan hidup untuk dipimpin oleh Roh Kudus.

Kita tidak selamanya menggunakan hati nurani sebagai patokan apabila kita sering melawan dan mengabaikan hati nurani. “Ingat, apabila orang sering mengabaikan hati nurani, lama-lama ia tidak memberikan bisikan apapun.”
Titus 1:15 “Bagi orang suci, semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.”

Jika seseorang sudah menerima Roh Kudus, hati nuraninya akan gelisah jika ia berbuat sesuatu yang najis.
Ada 3 kekuatan yang dapat menuntun dan menguji hati nurani kita: Firman (Yohanes 17:17, Mazmur 119:9); Darah Kristus (Yohanes 13:7); Roh Kudus (1 Petrus 1:2).

Dalam ayat 18, Rasul Paulus menugaskan Timotius ke Efesus dan Timotius menjadi hamba oleh karena Tuhan telah menyucikan dengan darah-Nya. Sudah menerima Roh Kudus dan dipimpin oleh Firman Allah. Kata ‘hamba’ menjelaskan bahwa Timotius hanya melayani dan merendahkan dirinya kepada tuannya yaitu Kristus. Bagi orang percaya, tuan kita yang sejati adalah Yesus Kristus. Seseorang yang menjadi hamba Kristus adalah suatu panggilan yang sangat mulia.

Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia hamba (Matius 12:18). Ia tidak membanggakan pengorbanan-Nya tetapi Ia tetap merendahkan diri sebagai hamba. Bahkan di dalam Markus 10:45 “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa- Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Begitu juga Para Rasul yang memposisikan diri sebagai seorang hamba sehingga hati nurani mereka dimurnikan dan mereka rela mati demi Injil dan nama Kristus dikenal dimana-mana.
Dalam ayat 19, kalau hati nuraninya tidak murni maka kandaslah iman mereka.Untuk melayani Kristus sangat penting adanya keyakinan akan kebenaran dan pengorbanan Yesus Kristus.

Kita perlu ketaatan kepada Firman Tuhan sehingga hati nurani kita terus diingatkan oleh Tuhan. Hal ini memampukan kita menjadi seorang hamba dengan hati nurani yang murni.